Watu Semar

Batu besar yang memiliki berat sekitar 80 ton akhirnya berhasil diangkat dari “persemediannya” dan dipindahkan ke Alun-alun Kota Bojonegoro untuk dijadikan sebagai prasasti. Batu yang memiliki ukuran panjang kurang lebih 4 meter, lebar 4 meter dan tinggi 3 meter itu dinamakan Batu Semar. Lantas bagaimana sejarahnya?

Secara tertulis memang tidak terdokumentasikan, bagaimana kemudian awal mula batu yang sebelumnya berada di kawasan Hutan ikut Dusun Bendotan, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro itu disebut dengan nama Batu Semar. Penyebutan itu secara “gepok tular” atau dari mulut ke mulut. Kemudian dikenal menyebar ke berbagai daerah luar Bojonegoro.

Mantan Kepala Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, Suwito, mengatakan, menurut kepercayaan warga sekitar batu semar sudah ada sejak jutaan tahun silam. Diduga batu tersebut merupakan batu material dari Gunung Pandan yang berada tidak jauh dari lokasi. Sebelumnya Gunung Pandan merupakan gunung aktif yang sempat meletus.

“Mungkin juga karena bentuknya yang menyerupai tokoh pewayangan Semar kemudian mbah-mbah (orang tua,red) kita menyebut batu tersebut dengan kepercayaan batu semar,” terangnya, Rabu (07/01/2015).

Selain sebagai kepercayaan masyarakat sekitar bahwa bentuknya menyerupai dengan tokoh wayang Semar. Batu tersebut ditengarai juga memiliki hubungan spiritual dengan “penguasa” di Gunung Pandan, yakni Eyang Gendro Sari. Petilasan Eyang Gendro Sari saat ini dipercaya masih ada di Puncak gunung Pandan yang tingginya kurang lebih sekitar 897 meter diatas permukaan laut (MDPL).

“Antara puncak Gunung Pandan dengan Batu Semar ini seperti ada jalan pintas. Menurut kepercayaannya Mbah Semar sering berhenti di batu itu setelah dari puncak Gunung Pandan,” jelas Pria yang pernah menjabat Kepala Desa selama 15 tahun itu.

Batu Semar tersebut setiap malam satu Suro selalu ramai digunakan untuk melakukan ritual. Bahkan yang melakukan ritual banyak dari warga luar Bojonegoro. Tidak bisa dipungkiri, kata dia, benda apapun yang sudah ada jutaan tahun, maka tidak bisa lepas dari makhluk lain yang menghuninya. Sama halnya juga dengan Batu Semar. Sehingga untuk memindahkan batu tersebut sebelumnya dilakukan berbagai ritual baik dari kiyai maupun dukun.

“Mereka (paranormal,red) tidak hanya datang dari Bojonegoro, justru lebih banyak dari luar Bojonegoro. Mereka karena masih peduli mungkin dengan batu tersebut,” terangnya.

Mbah Wito, sapaan akrabnya menceritakan, sekitar tahun 1994 ada salah seorang kontraktor yang gila, ditengarai karena memindahkan batu tersebut tanpa melakukan ritual apapun. Pemindahan batu tersebut untuk proyek pelebaran jalan yang digarap oleh Kontraktor dari Ngawi.”Sampai saat ini orangnya masih setres,” ceritanya.

“Pemindahan batu ini juga mendapat restu dari warga sekitar. Saat akan dibawa ke Alun-alun, warga memberi salam kepada Batu Semar dengan melakukan iring-iringan mengendarai sepeda motor. Seakan mereka berkata “selamat jalan mbah semar” sambil melakukan salam hormat,” ceritanya.

Kenapa kemudian memilih batu Semar untuk dijadikan prasasti di Alun-alun? Filosofinya, dia menceritakan, Bojonegoro sebenarnya memiliki berbagai keunggulan yang komperatif, kemudian bagaimana menjadi ompetitif. Dari sini kemudian, potensi wisata dari daerah-daerah terpencilpun diharapkan mulai tergali. “Hal itu bisa berpotensi untuk penawaran brand suatu wilayah,” terangnya.

Sementara, Bupati Bojonegoro Suyoto mengatakan, Batu Semar memiliki arti filosofi yang tinggi. Semar yang merupakan tokoh Wayang asli Jawa itu, merupakan tokoh wayang yang menggambarkan seorang dewa yang menyatu atau “macak” rakyat. “Artinya rakyat itu juga dewa. Batu Semar tersebut akan menjadi prasasti di Alun-alun Bojonegoro yang menggambarkan tentang tekad untuk berprestasi,” terangnya.

Seperti diketahui Batu Semar tersebut akhirnya bisa dipindahkan ke Alun-alun Bojonegoro pagi tadi. Proses evakuasi hingga pengangkutan memakan waktu sekitar 20 hari. Beberapa kali truk dolie yang mengangkut batu tersebut mogok karena ukuran batu yang terlalu besar. Selain itu, jalan di Kecamatan Gondang maupun Temayang kondisinya banyak tanjakan. Sehingga butuh dua eskafator untuk mendorong truk dolie tersebut agar kuat saat tanjakan.

Pengangkutan batu tersebut juga menarik perhatian masyarakat. Sehingga tak jarang pengguna jalan maupun warga sekitar yang dilintasi langsung bergerombol untuk menyaksikan pengangkutan batu tersebut. Proses evakuasi hingga pengangkutan Batu Semar itu menelan anggaran sebesar kurang lebih Rp300 juta yang diambilkan dari dana hadiah yang di Peroleh Bojonegoro dari UNSDSN.

download-12http://m.beritajatim.com/gaya_hidup/228067/sejarah_batu_semar_yang_jadi_prasasti_di_alun-alun_bojonegoro.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *